Etika Produksi Di Dunia Bisnis

Etika Produksi Di Dunia Bisnis

Etika Produksi Di Dunia Bisnis

 

 Etika Profesi tumbuh karena adanya kesadaran bahwa etika adalah hal yang dibutuhkan pada saat bekerja, , setiap kegiatan produksi haruslah mengikuti etika profesi, karena apabila kegitan etika profesi tidak dilakukan dengan baik maka akan menimbulkan keriguan yang sifatnya membahayakan, bagi masyarakat, khususnya konsumen pengguna dari hasil produksi.

Etika Produksi Di Dunia Bisnis Pada dasarnya setiap hari manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun dalam melakukan pekerjaannya sering kali ada hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan awal dalam pekerjaannya. Hal tersebut dapat terjadi misalnya pada tindakan yang salah yang mengakibatkan timbulnya kemungkinan kecelakaan kerja bahkan keselamatan lingkungan kerja itu sendiri. Oleh karena itulah dibutuhkan sebuah aturan dasar yang mengikat pekerja dalam menjalankan profesinya. Peraturan dasar itu dikenal dengan Etika Profesi.

  1. Makna Etika Bisnis

Ketika para pebisnis mulai membicarakan etika maknanya adalah :

  • Penghindaran terhadap pelanggaran hukum kriminal dalam aktivitas kerja seseorang;
  • Tindakan   penghindaran terhadap   perlawanan   hukum  sipil   yang dilakukan perusahaan
  • Penghindaran terhadap penciptaan imej buruk perusahaan.

Bisnis biasanya memperhatikan tiga hal tersebut jika sudah mengalami kerugian dan reputasi perusahaan mulai menurun. Munculnya kasus-kasus yang melahirkan problematik etika bisnis bisa beragam sifatnya, seperti adanya kepentingan pribadi yang berlawanan dengan kepentingan orang lain, hadirnya tekanan persaingan dalam meraih keuntungan yang melahirkan konflik perusahaan dengan pesaingnya, munculnya pertentangan antara tujuan perusahaan dengan nilai-nilai pribadi yang melahirkan pertentangan antara kepentingan atasan dan bawahannya. Etika Produksi Di Dunia Bisnis

Etika Produksi Di Dunia Bisnis

Terdapat 3 hal penting yang harus dimiliki oleh perusahaan dalam berbisnis:

  1. Transparansi

Masyarakat ingin mengetahui tentang operasi perusahaan. Posisi etis dari perusahaan harus jelas bagi para pembeli agar mereka dapat menilai. Hal ini biasanya bisa dilakukan pada perusahaan yang sudah menjadi perusahaan publik.

  1. Kejujuran

Ketidakjujuran adalah aspek kritis terbesar dalam etika bisnis. Pemberian label yang salah atau tidak lengkap, harga yang membingungkan dapat merugikan konsumen. Kejujuran ini juga meliputi perilaku perusahaan, staf dan personil lainnya yang berkaitan dengannya.

  1. Kerendahan Hati

Perusahaan harus mencegah untuk menggunakan kekuatan atau uangnya untuk mengamankan posisinya.Di Indonesia sendiri hak konsumen dilindungi oleh Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999. Pasal 2 UUPK yang menyebutkan bahwa perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen serta kepastian hukum.

Sedangkan Hak konsumen menurut pasal 4 UUPK, adalah sebagai berikut:

  • Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkon-sumsi barang dan/atau jasa;
  • Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  • Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  • Hak untuk didengar pendapat atau keluhannya atas barang dan jasa yang dia gunakan;
  • Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyel saian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
  • Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen;
  • Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  • Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggam apabila barang  dan/atau jasa yang diterima  tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
  • Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;

Namun demikian konsumen juga mempunyai kewajiban,sebagai berikut (pasal 5):(1)     Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemak; atau pemanfaatan barang dan /atau jasa demi keamanan dan lamatan.(2)     Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan; jasa;(3)  Membayar dengan nilai tukar yang disepakati;(4)    Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut;Sedangkan pasal-pasal yang berkaitan dengan pelaku usaha adalah:

  1. Pasal 7,

Kewajiban Pelaku UsahaKewajiban pelaku usaha diantaranya adalah:(1)  Memberikan informasi yang jelas, benar dan jujur mengenai komdan  jaminan   barang  dan/atau  jasa   serta  memberi   penjelas penggunaan perbaikan dan pemeliharaan.(2) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif(3)  Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/ata diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.(4)  Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai perjanjian.

  1. Pasal 13, Ayat l:

Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan suatu barang dan atau jasa dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan atau jasa lain secara cuma-cuma dengan maksud tidak memberikannya atau memberikan tidak sebagaimana yang dijanjikannya.

  1. Pasal 14

Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dengan memberikan hadiah melalui cara undian, dilarang untuk:

(1)  Tidak  melakukan   penarikan   hadiah  setelah   batas   waktu  yang dijanjikan;(2)    Mengumumkan hasilnya tidak melalui media masa;(3)   Memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan;(4)  Mengganti  hadiah  yang  tidak setara  dengan  nilai hadiah  yang dijanjikan;d. Pasal 18, Ayat 2:

Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausa baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca jelas, atau pengung-kapannya sulit dimengerti.

Terdapat 3 (tiga) Teori Dasar dalam pendekatan etis dan yuridis yang berkaitan dengan hubungan antara konsumen dan produsen, yaitu:

  • Teori KontrakMenurut teori ini hubungan antara konsumen dan produsen sebaiknya dilihat sebagai semacam kontrak dan kewajiban produsen terhadap konsumen yang didasarkan pada kontrak tersebut. Kewa­jiban produsen adalah memberikan produk yang mempunyai kualitas sesuai dengan yang dijanjikan dalam promosinya, sedangkan kewajiban konsumen adalah membayar sejumlah uang pada perusahaan untuk produk tersebut dengan prinsip berhati-hati dalam mempunyai kewajiban dasar untuk mematuhi isi dari perjanjian penjualan dan kewajiban sekunder untuk memahami sifat produk, menghindari misrepresentasi dan menghindari penggunaan paksaan.
  • Teori Perhatian SemestinyaTeori ini menekankan bahwa faktor yang sangat diperbatikan adalah kepentingan konsumen untuk mendapatkan produk yang berkualitas adalah menjadi tanggung jawab produsen. Norma dasar yang melandasi pandangan ini adalah bahwa seseorang tidak boleh merugikan orang lain dengan kegiatannya.
  • Teori BiayaSosialTeori ini berkaitan dengan inovasi dari desain produk, dalam hal ini produsen mempunyai tanggungjawab atas semua kekurangan pro­duk dan setiap kerugian yang dialami konsumen dalam memakai produknya.
  1. Etika Produksi

Produksi berarti diciptakannya manfaat, produksi tidak diartikan sebagai menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada, karena tidak seorang pun dapat menciptakan benda. Kegiatan produksi mempunyai fungsi mencipta­kan barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada waktu, harga dan jumlah yang tepat.

2.1. Teori produksi

  1. Arti / pengertian produksi

Dalam ilmu ekonomi, pengertian produksi mengacu pada dua hal berikut:

  1. Pertama, produksi yang menghasilkan barang dan jasa baru sehingga dapat menambah jumlah, mengubah bentuk, atau memperbesar ukurannya. Misalnya beternak dan bercocok tanam.
  2. Kedua, produksi diartikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan atau menambah daya guna suatu crang sehingga lebih bermanfaat. Misalnya pertukangan dan kerajinan.
  3. Faktor-faktor produksi

Secara umum faktor produksi ada faktor produksi asli dan faktor produksi turunan.

  1. Faktor produksi asli, meliputi alam ( tanah, air, udara, sinar matahari, tumbuhan , hewan ) dan tenaga kerja.
  2. Faktor produksi turunan, meliputi modal dan keahlian.
  3. Tujuan produksi

Dalam suatu aktivitas produksi memiliki beberapa tujuan. Tujuan produksi itu antara lain :

  1. Memperbanyak jumlah barang dan jasa.
  2. Menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi.
  3. Memenuhi kebutuhan sesuai dengan peradaban.
  4. Mengganti barang-barang yang rusak atau habis.
  5. Memenuhi pasar dalam negeri untuk perusahaan dan rumah tangga.
  6. Memenuhi pasar internasional.
  7. Meningkatkan kemakmuran.
  8. Proses produksi

Sesuai dengan batasan pengertian produksi (pada bagian 1) , maka barang dan jasa yang dihasilkan adalah suatu kegiatan atau usaha manusia . Untuk menghasilkan produk tesebut , dibutuhkan suatu proses yang disebut sebagai proses produksi.

Jadi , proses produksi adalah suatu kegiatan yang dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu untuk meniasilkan atau menambah manfaat barang atau jasa.

  1. Fungsi produksi

Kegiatan produksi menyangkut dua persoalan utama , sebagai berikut.

  1. Input ( masukan ), yaitu segala sesuatu yang dimasukkan ke dalam proses produksi. Misalnyj bahan mentah, modal, dan mesin.
  2. Output ( keluaran ) yaitu hasil yang dikeluarkan dari proses produksi.

Hubungan antara input dan output dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut,

Dalam proses produksi biasanya perusahaan menekankan agar produk yang dihasilkannya mengeluarkan biaya yang termurah, melalui peng-kombinasian penggunaan sumber-sumber daya yang dibutuhkan, tentu saja tanpa mengabaikan proses inovasi serta kreasi. Secara praktis, ini memerlukan perubahan dalam cara membangun. Yakni dari cara produksi konvensional menjaai cara produksi dengan menggunakan sumber daya alam semakin sedikit, membakar energi semakin rendah, menggunakan ruang-tempat lebih kecil, membuang limbah dan sampah lebih sedikit dengan hasil produk yang setelah dikonsumsi masih bisa didaur ulang.Pola produksi ini dilaksanakan dalam ruang lingkup dunia usaha yang merangsang diterapkannya secara lebih meluas ISO-9000 dan ISO-14000.

ISO-9000 bertujuan untuk peningkatan kualitas produksi. Sedangkan ISO-14000 bertujuan untuk peningkatan pola produksi berwawasan ling-kungan, membangun pabrik atau perusahaan hijau (green company) dengan sasaran “keselamatan kerja, kesehatan, dan lingkungan” yang maksimal dan pola produksi dengan “limbah-nol” (zero waste), mendorong penjualan dengan pengepakan barang secara minimal dan bisa dikembalikan untuk didaur-ulang kepada penjual, merangsang perusahaan asuransi mengem-bangkan “risiko lingkungan” dan mendorong Bursa Jakarta mengembangkan semacam “Dow Jones Sustainable Development Index”.

Langkah-langkah tersebut memerlukan ditegakkannya kode etika “tanggung jawab dan akuntabilitas korporasi” (corporate responsibility and accountability) yang diawasi ketat oleh asosiasi-asosiasi perusahaan dan masyarakat umum. Kualitas produk pun bisa dikorbankan demi pemangkasan biaya produksi.

Hukum harus menjadi langkah pencegahan (precautionary measures) yang ketat bagi perilaku ekonomi. Perilaku ekonomi yang membahayakan keselamatan publik harus diganjar seberat-beratnya. Ini bukan sekadar labelisasi “aman” atau “tidak aman” pada barang konsumsi. Karena, itu amat rentan terhadap kolusi. Banyak pengusaha rela membayar miliaran rupiah bagi segala bentuk labelisasi. Seharusnya pengusaha membayar miliaran rupiah atas perbuatannya yang membahayakan keselamatan publik. Hukum harus menjadi pencegah dan bukan pemicu perilaku ekonomi tak etis.Sebagai contoh kasus di luar negeri yang terjadi pada biskuit Arnotts di Australia. Pada suatu saat perusahaan ditelpon oleh seseorang yang hendak memeras perusahaan tersebut bahwa salah satu kemasan produknya berisi biskuit yang beracun tidak diketahui kecuali oleh si pemeras tersebut. Perusahaan dihadapkan pada dua pilihan yaitu membayar orang yang memeras tersebut untuk menunjukkan produk mana yang beracun, atau menarik seluruh peredaran biskuit tersebut.Namun perusahaan lebih memilih untuk menanggung kerugian yang besar dengan menarik seluruh produk-produknya dan memusnahkannya. Ternyata itu menanamkan kepercayaan konsumen kepada perusahaan, walaupun pada saat itu perusahaan menanggung kerugian yang cukup besar, namun ternyata enam bulan kemudian pendapatan perusahaan naik tiga kali lipat.

2.2.      Etika Produksi

Definisi atau arti etika secara sederhana adalah studi mengenai hak dan kewajiban manusia , peraturan moral yan dibuat dalam pengambilan keputusan dan sifat alami hubungan antar manusia. Untuk mengenal etika dalam bisnis , kita perlu mengawasi hal-hal sebagai berikut :

  1. Nilai

Nilai merupakan aturan main yang dibuat pengusaha dan menjadi patokan dalam berusaha.

  1. Hak dan kewajiban

Pengusaha yang mengerti etika akan meminta haknya sebagai pihak yang mendapat keuntungan dari hasil usaha, namun ia juga memahami kewajibannya. Misalnya menggaji karyawan, membayar pajak dan sebagainya.

  1. Peraturan moral

Peraturan moral menjadi acuan tertulis yang sangat penting bagi pengusaha ketika mengalami dilema atau permasalahan, baik internal atau eksternal.

 4. Hubungan manusia

Beberapa sikap pengusaha yang menunjukkan sikap kepedulian terhadap hubungan manusia sebagai berikut.

  1. Menepati janji yang telah dibuat, apabila berjanji ikut mengelola lingkungan hidup.
  2. Saling membantu, misalnya mempreoritaskan perekrutan karyawan dari masyarakat di sekitar perusahaan.
  3. Menghargai orang lain, misalnya memberikan gaji yang layak kepada karyawan.
  4. Menghargai milik orang lain, misalnya hak cipta.

Agar perilaku perilaku dapat mengutamakan kepentingan umum / masyarakat . Perusahaan selaku produsen harus menamankan hal-hal sebagai berikut.

  1. Membesikan keuntungan kepada stake header( baik kepada pihat yang terkait langsung atau tidak langsung ).
  2. Memberikan sumbangan sosial.
  3. Menumbuhkan rasa saling percaya.
  4. Menghormati aturan.
  5. Menghindari operasi tidak etis

Baca artikel sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *